Catatan: SHS yang saya rangkai dalam tulisan ini sudah mengalami modifikasi untuk meningkatkan efisiensi maupun safety. Perubahan-perubahan modifikasi dicatat di bagian akhir tulisan ini.

*****

DISCLAIMER: SHS yang saya rangkai ini hanyalah sebatas uji coba sebagai bagian dari hobi saya tentang elektronika. Sistem/rangkaian yang dipaparkan dalam tulisan ini tidak merujuk pada standar mana pun, namun tetap memerhatikan aspek safety kelistrikan pada umumnya. Sistem/rangkaian dalam tulisan ini tidak disarankan diaplikasikan oleh pihak/kontraktor mana pun untuk layanan instalasi profesional tanpa adanya riset kelaikan untuk umum. Anda yang ingin membangun SHS di rumah, disarankan berkonsultasi dengan kontraktor profesional di kota/daerah Anda, dan tidak disarankan untuk memasangnya sendiri.

*****

Saya mempunyai salah satu hobi yang cukup berbeda dengan profesi yaitu ‘elektronika’. Sejak SMP sudah suka utak-atik dan bikin radio, walky talky, dll. Berkaitan dengan hobi tersebut, dalam tulisan ini saya akan mencoba berbagi tentang solar home system (SHS) yang sudah saya pasang di rumah.

Ide untuk membuat PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) mini untuk perumahan atau SHS ini sebenarnya sudah lama. Ketika tinggal di Jerman, perumahan di seberang kampus saya dulu ternyata atap-atap rumahnya banyak yang dipasang panel surya. Benar-benar inspiratif karena di negara yang musim panasnya hanya seperempat tahun saja sudah mulai menggunakan energi yang bersumber dari matahari. Indonesia yang terletak di daerah tropis seharusnya mulai melirik sumber energi terbarukan ini.

Masalah keekonomian, memang perlu hitung-hitungan apakah SHS ini bisa dibilang lebih irit dari listrik PLN atau tidak, tulisan ini tidak mengarah ke sana. Yang jelas investasi awal memang besar, namun setelahnya tidak memerlukan biaya operasional. Kita hanya perlu melakukan perawatan saja terutama untuk aki sebagai penyimpan energi listrik.

Skema SHS

Gambar 1. Skema SHS

Untuk membuat SHS setidaknya harus ada empat komponen utama seperti pada Gambar 1 yaitu:
1. Panel surya
2. Solar charge controller
3. Aki
4. Inverter DC ke AC

1. Panel Surya

Panel surya adalah alat yang digunakan untuk mengubah sinar matahari menjadi listrik. Dalam sinar matahari terkandung energi dalam bentuk foton. Ketika foton ini mengenai permukaan sel surya, elektron-elektronnya akan tereksitasi dan menimbulkan aliran listrik. Prinsip ini dikenal sebagai prinsip fotoelektrik. Sel surya dapat tereksitasi karena terbuat dari material semikonduktor yang mengandung unsur silikon. Silikon ini terdiri atas dua jenis lapisan sensitif: lapisan negatif (tipe-n) dan lapisan positif (tipe-p).

Terdapat setidaknya dua jenis panel surya yaitu polikristalin dan monokristalin. Panel surya monokristalin merupakan panel yang paling efisien yang dihasilkan dengan teknologi terkini dan menghasilkan daya listrik per satuan luas yang paling tinggi. Monokristal dirancang untuk penggunaan yang memerlukan konsumsi listrik besar pada tempat-tempat yang beriklim tropis. Kelemahan dari panel jenis ini adalah tidak akan berfungsi baik di tempat yang cahaya mataharinya kurang (teduh), efisiensinya akan turun drastis dalam cuaca berawan.

Panel surya polikristalin merupakan panel surya yang memiliki susunan kristal acak karena difabrikasi dengan proses pengecoran. Tipe ini memerlukan luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan jenis monokristalin untuk menghasilkan daya listrik yang sama. Panel surya jenis ini memiliki efisiensi lebih rendah dibandingkan tipe monokristalin, sehingga memiliki harga yang cenderung lebih rendah. Keunggulan tipe polikristalin adalah panel surya masih dapat mengkonversi energi yang lebih tinggi pada cuaca yang berawan jika dibandingkan dengan tipe monokristalin.

2. Solar Charge Controller

Solar controller adalah alat yang digunakan untuk mengontrol proses pengisian muatan listrik dari panel surya ke aki dan juga pengosongan muatan listrik dari aki ke beban seperti lampu, inverter, TV, dll. Terdapat setidaknya dua jenis solar controller yaitu yang menggunakan teknologi PWM (pulse width modulation) dan MPPT (maximum power point tracking). Solar controller PWM akan melakukan pengisian muatan listrik ke aki dengan arus yang besar ketika aki kosong, dan kemudian arus pengisian diturunkan secara bertahap ketika aki semakin penuh. Teknologi ini memungkinkan aki akan terisi dalam kondisi yang benar-benar penuh tanpa menimbulkan ‘stress’ pada aki. Ketika aki penuh solar controller ini akan menjaga aki tetap penuh dengan tegangan float tertentu.

Untuk membuat rangkaian SHS bisa bekerja, maka tegangan output dari panel surya harus lebih besar daripada tegangan aki yang akan diisi muatan listrik. Apabila tegangan output panel surya sama atau bahkan malah kurang dari tegangan aki, maka proses pengisian muatan listrik ke aki tidak akan terjadi. Umumnya panel surya dapat mempunyai tegangan output sekitar 18 volt, masuk ke solar controller yang mempunyai tegangan output antara 14,2 – 14,5 volt untuk pengisian aki 12 volt. Dengan demikian akan terdapat kelebihan tegangan sekitar (18 – 14,5 = 3,5) volt. Pada solar controller dengan teknologi MPPT, kelebihan tegangan ini akan dikonversikan ke penambahan arus pengisian aki, sehingga teknologi ini mempunyai efisiensi yang lebih tinggi daripada PWM.

3. Aki

Aki adalah media penyimpan muatan listrik. Secara garis besar aki dibedakan berdasarkan aplikasi dan konstruksi. Berdasarkan aplikasi maka aki dibedakan untuk engine starter (otomotif) dan deep cycle. Aki otomotif umumnya dibuat dengan pelat timbal yang tipis namun banyak sehingga luas permukaannya lebih besar (Gambar 2). Dengan demikian aki ini bisa menyuplai arus listrik yang besar pada saat awal untuk menghidupkan mesin. Aki deep cycle biasanya digunakan untuk sistem fotovoltaik (solar cell) dan back up power, dimana aki mampu mengalami discharge hingga muatan listriknya tinggal sedikit.

Gambar 2. Jenis aki starter (otomotif) (a) dan deep cycle (b)

Gambar 2. Jenis aki starter (otomotif) (a) dan deep cycle (b)

Jenis aki starter atau otomotif sebaiknya tidak mengalami discharge hingga melampaui 50% kapasitas muatan lsitriknya untuk menjaga keawetan aki. Apabila muatan aki basah sampai di bawah 50% dan dibiarkan dalam waktu lama (berhari-hari tidak di-charge kembali), maka kapasitas muat aki tersebut akan semakin berkurang sehingga menjadi tidak awet. Berkurangnya kapasitas muat aki tersebut karena proses pembentukan kristal sulfat yang menempel pada pelat ketika muatan aki tidak penuh (di bawah 50%). Keawetan aki berkaitan dengan banyaknya discharging pada kedua jenis aki tersebut ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Siklus pengisian pada jenis aki otomotif dan deep cycle

Tabel 1. Siklus pengisian pada jenis aki otomotif dan deep cycle

Secara konstruksi aki dibedakan menjadi tipe basah (konvensional, flooded lead acid), sealed lead acid (SLA), valve regulated lead acid (VRLA), gel, dan AGM (absorbed glass mat); dimana semuanya merupakan aki yang berbasis asam timbal (lead acid). Tabel 2 menunjukkan voltase yang diperlukan untuk proses absorption charging (dengan arus maksimum) dan float charging (untuk mencegah self discharge) pada jenis-jenis aki tersebut.

Tabel 2. Voltase charging untuk berbagai jenis aki

Tabel 2. Voltase charging untuk berbagai jenis aki


.

Model gelombang inverter

Gambar 3. Model gelombang inverter

4. Inverter

Inverter adalah perangkat yang digunakan untuk mengubah arus DC dari aki menjadi arus AC dengan tegangan umumnya 220 volt. Alat ini diperlukan untuk SHS karena menyangkut instalasi kabel yang banyak dan panjang. Apabila beban bukan untuk instalasi rumah, misalnya hanya untuk menghidupkan satu lampu atau alat dengan voltase 12 VDC dan tidak menggunakan kabel yang panjang (seperti PJU: Penerangan Jalan Umum), inverter tidak diperlukan. Apabila jumlah beban banyak dan kabel panjang dan tetap menggunakan arus DC 12 volt tanpa inverter, maka akan banyak sekali listrik yang hilang di kabel (losses). Selain itu jika menggunakan inverter yang mengubah menjadi arus AC 220 volt, ini akan sesuai dengan listrik PLN sehingga bisa dibuat listrik hibrid (gabungan listrik PLN dan SHS) dengan instalasi kabel dan lampu yang sama.

Terdapat tiga jenis inverter dilihat dari gelombang output-nya yaitu pure sine wave, square wave, dan modified sine wave (Gambar 3).

Inverter pure sine wave mempunyai bentuk gelombang sinus murni seperti listrik dari PLN. Bentuk gelombang ini merupakan yang paling ideal untuk peralatan elektronik pada umumnya.

Inverter square wave mempunyai bentuk gelombang kotak sebagai hasil dari proses swicthing sederhana. Bentuk gelombang ini tidak ideal dan dalam banyak kasus dapat merusak peralatan elektronik rumah tangga.

Inverter modified sine wave mempunyai gelombang yang dimodifikasi mendekati bentuk sinus. Bentuk gelombang ini dapat merusak peralatan yang bersifat sensitif.

Inverter square wave sebaiknya dihindari supaya tidak merusak peralatan elektronik, sedangkan inverter modified sine wave sebaiknya tidak digunakan untuk peralatan yang mengubah listrik menjadi gerakan seperti pompa, kipas angin, printer, dll. Inverter modified sine wave merupakan inverter yang banyak dijual di pasaran, sedangkan inverter pure sine wave jarang ada di pasaran karena harganya yang mahal, sekitar 10 kali lipat harga inverter modified sine wave.

Merangkai Solar Home System

Rangkaian SHS sebenarnya sangatlah sederhana seperti pada Gambar 1 di atas. Panel surya yang saya gunakan sebanyak 6 yang terdiri dari 2 panel 50 watt peak (Wp) dan 4 panel 100 Wp, masing-masing mempunyai tegangan output 18 volt. Untuk menghindari losses listrik yang besar, SHS yang saya pasang menggunakan sistem solar controller 24 volt, bukan 12 volt. Supaya tegangannya mencukupi untuk pengisian aki, maka panel surya harus diseri. Dua kali dua (2 x 2) panel 100 Wp diseri menghasilkan tegangan 36 volt dan arus maksimum 2 x 5,8 A, kemudian dua kali panel 50 Wp juga diseri menghasilkan tegangan 36 volt dan arus maksimum 3A. Dua rangkaian tersebut kemudian diparalel sehingga diperoleh panel surya total 36 volt dan arus maksimum 14,6 A (Gambar 4).

Gambar 4. Skema kombinasi panel surya

Gambar 4. Skema kombinasi panel surya

Untuk panel surya saya pilih yang tipe monokristalin karena komplek perumahan yang berada di sekitar sawah dimana tidak ada halangan sinar matahari yang cukup berarti sepanjang pagi hingga sore kecuali awan/mendung. Sehingga tipe monokristalin ini akan memberikan efisiensi konversi energi yang lebih baik. Gambar 5 dan Gambar 6 adalah foto panel surya yang saya pasang di atas genting rumah.

Panel surya 2x100 Wp, di atas genting yang menghadap ke timur

Gambar 5. Panel surya 4×100 Wp, di atas genting yang menghadap ke timur

Panel Surya 2x50 Wp, di atas genting yang menghadap ke barat

Gambar 6. Panel Surya 2×50 Wp, di atas genting yang menghadap ke barat

Output dari panel surya dialirkan ke solar controller yang kemudian diatur untuk pengisian aki dan juga beban ke inverter (Gambar 7). Hal yang harus diperhatikan adalah besarnya kabel koneksi. Berhubung arus yang akan mengalir ke solar controller dan kemudian ke aki dan inverter cukup besar, maka kabel harus menyesuaikan. Acuan singkatnya untuk arus sebesar 10 A maka kabel yang dipasang setidaknya mempunyai ukuran luas penampang minimal 2,5 mm2, jika kurang dari itu maka kabel bisa panas dan terbakar.

Koneksi solar controller

Gambar 7. Koneksi solar controller

Solar charge controller yang digunakan seperti pada gambar di bawah, dengan kapasitas 30 A (Gambar 8). Menurut saya ini adalah jenis controller yang cukup bagus karena beberapa alasan.

Pertama, controller ini menggunakan teknologi MPPT sehingga efisiensi dalam pengisian aki lebih tinggi. Sesuai spesifikasi panel surya yang saya rangkai, arus pengisian adalah 14,6 A, namun dengan solar controller ini kelebihan tegangan panel surya dikonversi ke arus pengisian sehingga totalnya menjadi maksimal kurang lebih 18 A.

Kedua, parameter bisa diubah-ubah sesuai dengan tipe aki. Sebagai contoh tegangan pengisian (charging) ‘float’ bisa diubah-ubah. Tegangan charging float untuk aki basah umumnya 13,5 volt untuk aki 12 volt atau 27 volt untuk aki 24 volt. Jenis aki lain mempunyai tegangan charging float yang berbeda. Parameter lain yang bisa diubah adalah tegangan aki minimum ketika aliran listrik ke beban harus diputus. Ketika terjadi proses discharging karena digunakan oleh beban, maka tegangan aki akan terus berkurang. Ketika tegangan yang menurun tersebut sampai pada tegangan minimum yang ditentukan tadi, maka solar charge controller otomatis akan memutuskan aliran ke beban supaya aki tidak terjadi over-discharging. Fitur ini sangat penting ketika kita tidak menggunakan jenis aki deep cycle. Dari beberapa fitur yang disebut di atas, sudah jelas controller ini sangat fleksibel.

Ketiga, controller ini sangat informatif dengan parameter-parameter semua ditampilkan dalam layar LCD seperti arus dan tegangan charging, serta arus dan tegangan discharging.

Keempat, seperti jenis controller pada umumnya, disertai fitur program otomasi untuk pengaturan kapan aliran beban disambung dan diputus, apakah dengan timer atau dengan indikator sinar matahari (ON ketika gelap di sore hari, dan OFF ketika terang di pagi hari).

Solar Charge Controller MPPT 12/24 volt (Auto), 30 A.

Gambar 8. Solar Charge Controller MPPT 12/24 volt (Auto), 30 A.

Jenis aki yang digunakan adalah aki basah sebanyak 2×100 Ah dan 2x60Ah yang dikombinasi seri dan paralel seperti skema Gambar 7 di atas. Dari konfigurasi tersebut diperoleh aki 24 volt dengan kapasitas muatan 160 Ah. Di sini saya sengaja memilih jenis aki basah karena lebih murah dari jenis aki lain (Gambar 9). Dengan jenis solar charge controller seperti dijelaskan di atas, penggunaan aki basah saya pikir tidak terlalu menjadi masalah. Hanya saja kita memang harus rajin memeriksa level air aki setidaknya setiap 2 bulan sekali.

Selain itu penempatan aki basah dalam ruang tertutup atau di dalam rumah juga cukup beresiko, karena selama proses charging aki akan mengeluarkan uap air aki yang berbau menyengat dan tidak bagus bagi manusia. Untuk mengantisipasinya, saya pasang selang ventilasi dari lemari kecil tersebut melewati dalam tembok bersama kabel-kabel dan kemudian dihisap dengan kipas hisap yang biasanya untuk laptop di atas plafon rumah.

Aki Basah 160 Ah 24 Volt

Gambar 9. Aki Basah 160 Ah 24 Volt

Inverter yang digunakan adalah jenis pure sine wave (Gambar 10). Sebelumnya saya menggunakan jenis modified sine wave dari berbagai merk dan spesifikasi yang ternyata memang bermasalah atau tidak cocok untuk beberapa alat elektronik di rumah seperti lampu jenis LED merk tertentu, sensor gerak dengan saklar relay, sensor cahaya dengan saklar relay, dll. Sehingga saya beralih ke inverter pure sine wave supaya benar-benar lebih aman untuk semua peralatan elektronik di rumah. Sampai saat ini dengan jenis inverter ini tidak ada masalah untuk semua peralatan elektronik.

Inverter Pure Sine Wave 24 Volt

Gambar 10. Inverter Pure Sine Wave 24 Volt

Load atau beban disetel tersambung aliran listrik hanya ketika gelap (malam hari), dan ketika siang aliran listrik ke beban (inverter) akan diputus oleh solar controller. Beban yang terpasang adalah semua lampu di rumah, televisi, beberapa stop contact tertentu yang salah satunya untuk laptop. Beban dibagi dalam 4 saklar seperti Gambar 11 dan Gambar 12 di bawah.

Gambar 11. Panel Saklar

Gambar 11. Panel Saklar

Gambar 12. Pembagian Beban Listrik pada 4 Saklar

Gambar 12. Pembagian Beban Listrik pada 4 Saklar

Listrik di rumah dibuat sistem hibrid, yaitu menggunakan sumber listrik dari PLN dan PLTS. Saklar yang mengarah ke atas artinya menggunakan listrik PLN terus menerus selama 24 jam. Saklar mengarah ke bawah artinya menggunakan listrik PLN dan SHS yang berganti secara otomatis ketika petang dan pagi hari (sistem hibrid). Untuk yang terakhir ini, sistem otomasi cukup sederhana yaitu hanya menggunakan saklar elektrik (relay). Ketika solar controller memutus aliran ke beban, maka relay secara pasif akan menghubungkan aliran ke listrik PLN. Ketika gelap (petang) aliran ke beban tersambung sehingga menggerakkan relay yang kemudian mengganti sambungan listrik ke SHS.

Rata-rata beban SHS dari petang hari hingga malam jam 9 sekitar 200 Watt, sedangkan setelah jam 9 malam hingga pagi hari beban SHS rata-rata sekitar 100 Watt. Beban ini relatif kecil karena semua lampu sudah berupa lampu LED. Selain itu TV juga sudah menggunakan TV LED. Jika dihitung muatan listrik yang terpakai setiap malam rata-rata 60 Ah dari aki 24 volt. Karena muatan aki total adalah 160 Ah (24 volt) maka masih tersisa setiap pagi hari rata-rata 100 Ah, dimana ini masih jauh di atas 50% kapasitas muat aki, sehingga masih relatif aman supaya aki basah ini tetap awet.

Untuk charging dari panel surya, dengan mengasumsikan penyinaran matahari maksimum terjadi selama 5 jam sehari dengan arus 14,6 A maka akan tersimpan muatan sebesar 14,6 A x 5 jam = 73 Ah. Di luar 5 jam penyinaran maksimum tersebut, panel surya masih tetap melakukan charging namun dengan arus yang lebih kecil. Sehingga penggunaan 60 Ah setiap malam umumnya akan terkompensasi dengan pengisian aki pada siang hari.

Hitungan di atas hanyalah perkiraan kasar karena tidak memasukkan faktor efisiensi alat-alat.

Dalam kondisi musim penghujan proses charging bisa jadi akan kurang dari 50 Ah setiap harinya, sehingga aki semakin lama akan semakin terkuras habis setelah berhari-hari kondisi hujan (mendung). Untuk mengantisipasi supaya aki tetap terjaga dalam kondisi full setiap menjelang petang hari, dipasang juga charger aki biasa yang bersumber dari listrik PLN (Gambar 13).

Charger Aki Konvensional

Gambar 13. Charger Aki Konvensional

Charger konvensional ini disetel secara otomatis akan hidup setiap harinya menjelang petang (jam 4 sore) untuk mengecek kapasitas aki apakah sudah full muatannya atau belum. Penyetelan otomatisnya menggunakan timer. Apabila kondisi aki belum full, maka charger konvensional akan melakukan pengisian aki. Apabila aki sudah full, maka charger konvensional tidak akan melakukan pengisian aki. Yang harus diperhatikan di sini adalah ketika charger konvensional hidup maka secara otomatis koneksi aki dan panel surya ke solar controller harus terputus. Mekanisme ini dilakukan dengan memasang saklar elektrik (relay).

Tentang biaya, perangkat-perangkat yang saya sebut di atas dibeli pada kuartal ke-3 tahun 2013 dengan harga pada saat itu. Harga panel surya sebenarnya sangat bervariasi di pasaran, tergantung merk. Panel surya yang saya beli merk-nya Sunrise buatan China dengan garansi 25 (dua puluh lima) tahun. Harga panel yang 100 Wp adalah Rp 1,8 juta, sedangkan panel yang 50 Wp Rp 1 juta. Harga aki basah 2×100 Ah dan 2×60 Ah total adalah Rp 2,7 juta. Solar charge controller MPPT 30 A harganya Rp 0,6 juta. Inverter pure sine wave 500 W (1200 W surge) harganya Rp 1,4 juta. Sehingga biaya keempat perangkat utama SHS adalah sekitar Rp 14 juta. Perangkat pendukung lain seperti kabel instalasi, saklar elektrik (relay), lampu-lampu LED, dll juga harus disiapkan.

SHS yang terpasang di rumah dilihat secara keseluruhan seperti pada Gambar 14 berikut.

Solar Home System

Gambar 14. Solar Home System

Sedangkan Gambar 15 di bawah ini adalah sebagian peralatan yang setiap malam dinyalakan dengan listrik bertenaga surya.

lampu-teras-depan
lampu-k-mdi
lampu-taman-depan
lampu-taman-belakang
lampu-ruang-tengah
lampu-ruang-tamu
tv-1
tv-2
Gambar 15. Sebagian peralatan yang dinyalakan dengan listrik bertenaga surya.
.


.

Tulisan ini saya buat untuk berbagi kepada siapa saja yang kebetulan tertarik utak-atik tentang SHS. Semua peralatan utama SHS saya beli secara online, baik dari penjual dalam negeri (panel surya, aki) maupun luar negeri (solar charge controller, inverter pure sine wave). Semoga pada tertarik dan semakin banyak komunitas yang memakai listrik bertenaga surya, karena negara Indonesia terletak di daerah tropis, maka tenaga matahari adalah sumber energi alternatif yang sangat melimpah.

Energi matahari, energi terbarukan, energi hijau….

Materi tulisan ini sebagian diambil dari beberapa sumber:
1. http://www.projectfreepower.com
2. http://www.cmacpower.co.za
3. http://www.panelsurya.com
4. http://www.sunpowerplus.co.nz
5. http://solarpanelindonesia.wordpress.com
6. http://panel-surya.blogspot.com

Terima kasih banyak kepada CV. Aneka Surya (http://www.anekapanel.com) atas suplai panel surya dan juga konsultasi gratis yang ramah selama ini.

Perhatian: SHS yang saya pasang ini sudah mempertimbangkan banyak aspek keamanan dan standar pemasangan. Jika Anda tertarik dengan SHS dan belum mengerti tentang kelistrikan secara umum dan SHS secara khusus, jangan memasangnya sendiri, sebaiknya meminta kepada kontraktor yang ada di daerah Anda untuk mendesain dan memasangnya.

UPDATE:

1. Karena banyak keterbatasan kapasitas maupun isu gas asam yang timbul, SHS/PLTS di rumah sudah diganti dengan aki VRLA (valve regulated lead acid) deep cycle sebanyak 2 buah masing-masing 110 Ah (2 x 100 Ah). Berikut foto setelah diganti dengan aki VRLA:

Aki VRLA Deep Cycle 2 x 100 Ah

Aki VRLA Deep Cycle 2 x 100 Ah

2. Selain itu juga dipasang desulfator aki merk CLEN. Desulfator mungkin belum banyak yang mengetahui manfaatnya, termasuk saya di awal pemasangan PLTS/SHS di rumah juga belum pernah mendengarnya. Namun setelah baca-baca referensi melalui internet ternyata saya merasa perlu untuk memasang desulfator. Kegunaannya adalah untuk menghancurkan kristal-kristal timbal sulfat yang menempel pada lempeng anoda. Timbal sulfat adalah hal yang biasa di dalam reaksi kimia aki, namun ketika kristal-kristal timbal sulfat menumpuk dan saling mengunci karena aki terlalu lama dibiarkan kosong muatan listriknya (lama tidak di-charge), maka kristal-kristal tersebut akan sulit terlarut kembali ketika aki di-charge sehingga akan menurunkan kapasitas aki atau aki menjadi soak. Aki yang soak bisa disebabkan oleh banyak faktor misalnya kerusakan fisik pada sel aki, penumpukan kristal sulfat (sulfation), dll. Statistik menunjukkan 84% aki yang soak disebabkan oleh sulfation. Dengan demikian penggunaan desulfator saya rasa bisa menjadi langkah untuk memperpanjang usia aki.

Saya menggunakan desulfator merk CLEN yang bisa musti-voltage dari 12 hingga 48 Volt. Pemasangannya cukup mudah yaitu dengan memasang kabel berwarna merah ke terminal positif aki dan kabel hitam ke terminal negatif aki. Jika sudah dipasang maka sesuai dengan fungsinya, desulfator akan mencegah sulfation atau dapat pula menghancurkan kristal-kristal timbal sulfat yang sudah lama menumpuk, sehingga aki menjadi ‘seperti baru’ lagi. Untuk lebih detil tentang desulfator bisa dilihat di link ini: .

Berikut gambar desulfator yang terpasang di SHS. Desulfator ini hanya saya fungsikan sekali dalam sebulan selama 2 hari non-stop.

Desulfator aki asam timbal (lead acid) CLEN.

Desulfator aki asam timbal (lead acid) CLEN.

3. Berhubung banyak yang menanyakan tentang skema rangkaian. Berikut ini adalah skema rangkaian SHS di rumah saya dengan kondisi paling akhir.

Skema rangkaian SHS update Mei 2015

Skema rangkaian SHS update Mei 2015

138 Comments on Memasang Solar Home System atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya Mini untuk Rumah

  1. alfin says:

    keren abis mas aris. ntar saya jg mau pasang deh, kalo dah jd penduduk kota. skrg gk memungkinkan krn msh dihutan. hehe..
    luar biasa emg bapak dosen tambang satu ini. dishare lg mas info2 ttg PLTS nya, bwt wawasan byk org.

    • Slamet says:

      Kalau menurut saya sih justru solar panel lebih cocok untuk daerah terpencil yang belum terjangkau listrik. Kalau di kota harus “bersaing” dengan PLN, mana yang lebih ekonomis …

  2. Johan says:

    Mas Haris, kenapa ga sekalian pake tenaga angin? kalau musim hujan / cuaca berawan kan, cukup efektif tuh. karena kecepatan angin pada cuaca tersebut lumayan kencang. pake kincir spiral, biar bisa terima angin dari segala arah. jadi kalau cuaca panas, pakai solar panel, sedangkan kalau cuaca cloudy or rainy, pakai kincir a
    ngin. sehingga mas ga perlu lagi “nyentuh” listrik PLN, hehehe….

    • Haris says:

      Bukannya angin cuma efektif di daerah pantai atau daerah-daerah yang kenceng anginnya? Kalau tempat saya kok sepertinya nggak kenceng anginnya ya…. nggak tahu apa kincir bisa efektif atau tidak….

  3. Rusdy says:

    Wah wah, kalau semakin banyak rakyat yang melek teknologi kayak pak Haris ini, PLN bisa bangkrut :). PLN di negara maju aja udah pada ketakutan sama listrik dari sumber terbarukan (http://www.economist.com/news/.....lion-euros).

    Proyek selanjutnya apa Pak? Pake sepeda listrik, terus cas pake panel surya? (sekalian ngiklan proyek saya ah –> http://epxhilon.blogspot.com.a.....enaga.html

  4. bayu says:

    mas haris utk umur aki yang setiap hari charging dan discarging bisa kuat brp bulan sampe aki soak ?

    • Haris says:

      tergantung tingkat discharging harian. kalau yang saya paparkan dalam tulisan di atas, aki masih sangat bagus seperti baru walaupun sudah terpakai hampir setahun.

  5. ramaji says:

    Mohon maaf bisa minta no HP mas haris untuk konsultasi lbh lanjut

    karena saya juga sudah membuat seperti ini

  6. Sangat menginspirasi sekali Pak Haris, benar kita harus memanfaatkan semua energi gratis yang diberikan untuk kita manfaatkan, insyallah saya akan coba di rumah masa depan saya nanti, saya sarjana teknik mesin sangat berminat mengembangkan aplikasi energi terbarukan dalam kehidupan sehari-hari.
    boleh saya bertanya pak, berapa total budgeting yang di habiskan untuk membuat pembangkit mini tenaga surya.

    Salam,
    Agung

  7. narendra says:

    Klo boleh tahu, berapa nilai penghematan (dlm rupiah) perbulannya klo menggunakan SHS om haris?

  8. ardi says:

    sangat membantu saya terima kasih

  9. Decky Iskandar Z says:

    Hello Om Haris
    Saya Sangat Tertarik sekali dengan ulasan dengan mas haris dan sangat2 tertarik untuk mengembangkannya, trs terang juga saya ingin mengikuti jejak mas haris untuk pakai PLTS / SHS yang perlu saya tanyakan mungkin bisa d jawab dini maupun di email saya kalau tidak keberatan yaitu :
    1. Dimana bisa beli solar cell ?
    2. Dari perhitungan controller apakah ada hitungan misal pakai 100wp 4 biji hrs pakai controller berapa Ampere ?
    3. dari ilustrasi pemasangan sprtinya sangat mudah ya hehehehe….cuma kalau lihat dari pemasangan punya mas haris banyak yang perlu di pelajari dan dibuat nih nah itu mgkn bisa d share sistemnya dan buatnya ?
    4. Dari sekian banyak juga pembagian dari siang dan malam dibedakan dimana ya ? apakah saluran kabel dibedakan antara PLN damn SHS atau hanya beda di kabel Plus (+) saja, mohon penjelasannya terima kasih
    5. Estimasi Biaya u/ pembuatan sampai berpa ? dan barang yng import yg apa saja ?
    maaf mas haris banyak nanya karena saya memang tertarik banget demikian terima kasih sebelum dan sesudahnya.

    • Haris says:

      1. Bisa beli di toko2 online seperti http://www.anekasurya.com dan lain-lain.
      2. 1×100 Wp itu akan menghasilkan arus sekitar 5,8A dan voltase 18V. Kalau 4 panel itu diparalel semua maka akan menghasilkan arus 4 x 5,8A = 23,2A maksimal dan voltase 18V.
      3. Ah itu nggak rumit kok, sederhana saja cuma kombinasi saklar2 saja.
      4. Listrik di rumah dibagai menjadi dua jalur yaitu jalur PLN dan jalur Hibrid. Jalur PLN untuk alat2 yang butuh daya besar seperti mesin cuci, kulkas, dispenser dll. Jalur hibrid untuk semua lampu (LED) dan peralatan dengan daya kecil lainnya seperti TV LED, laptop, dll. Untuk jalur hibrid digunakan saklar relay untuk mengubah aliran listrik dari SHS pada malam hari dan dari PLN pada siang hari.
      5. Semua yang saya keluarkan dalam tulisan di atas adalah sekitar 15 juta rupiah. Barang yang saya beli dari luar negeri (Cina) adalah controller dengan display LCD dan inverter pure sine wave.

  10. aris says:

    Thanks sharingnya. Ada yg bisa beli paket dan termasuk instalasinya?

  11. lulu devilavista says:

    pak, bisakah saya berkonsultasi.. saya ingin punya rumah dengan atap panel surya, tapi tidak tahu dimana dan dengan siapa harus berdiskusi..

  12. Danang says:

    wah keren gan
    kunjungi lapak ane juga ya gan barangkali ada yang minat pasang kaya gitu kita siap gan. Juga melayani penjualan solar cell, aki, beserta aksesorisnya. Terimakasih gan

    Surya Energy Indonesia
    Jl. Kendalsari Selatan Ruko PCE Blok R19 Rungkut Surabaya
    Telp. 0318783440
    http://www.pjusolarcell.com | http://www.tiangpju.co.id

  13. Oke says:

    saya sangat tertarik dengan karya Om Haris.
    saya mau tanya beberapa hal:
    1.apakah sistem instalasi rumah juga di ubah total.
    kalau tidak bagaimana memisahkan penggunaan PLN dan SHS.
    sedangkan Om Haris untuk lapu dan tv?
    2.Om Haris… yang di sebelah voltase inverte itu timer atau apa ya?berapa harganya Om?
    3.relay yang di maksu om Haris contactor ya?atau relay dc?

    • Haris says:

      Instalasi listrik di rumah diubah hampir semuanya. Kulkas, dispenser, pemanas air, stop kontak untuk beban besar seperti setrika, oven jalurnya langsung dari PLN, sedangkan jalur yang lain seperti lampu tv, stop kontak untuk beban kecil (laptop, dll) dibuat hybrid. Hybrid –> siang memakai PLN dan malam memakai PLTS. Untuk mengubah sumber hybrid dari PLN atau PLTS memakai relay.
      Itu timer untuk menghidupkan charger konvensional setiap jam 4 sore pas musim hujan untuk mengecek apakah aki sudah penuh atau belum, jika belum maka charger akan nge-charge aki dari listrik PLN sampai penuh.

  14. Oke says:

    terimakasih atas penjelasan artikel dan jawabnya….

  15. Syemy says:

    Salam Pak Haris.
    Pak Saya mau pasang Surya di gubuk atau semacam pos ronda.
    Pemakaian hanya 2-3 lampu dan cas Hp.
    Bagaimana perhitungannya dan berapa modal yang di keluarkan untuk membeli peralatan tersebut..?
    Terima Kasih.

    • Haris says:

      Kalau itu kebutuhannya sedikit, paling dengan panel 1×100 Wp dan aki 1×100 Ah ditambah controller 10A sudah cukup, mungkin sekitar 3 juta rupiah.

  16. priyo says:

    Saya yang awam soal hitungan per-listrikan, lagi penasaran dengan plts karena listrik di rumah makin bengkak…nah..Alhamdulillah nemu tulisan Pak Haris…wah bagus sekali Pak Haris…karena benar2 dipraktekkan..tulisan yang sangat bermanfaat.
    Mohon penjelasan Pak Haris, 1. Kalau saya butuh kira2 1000 watt untuk AC di malam hari, perlu berapa unit panel surya yang berapa wp, dan akinya berapa unit? 2. Kalo aki di cas pakai PLN kemudian pasang inverter untuk output misal 700 watt, masih lebih efisien gak dibandingkan langsung konsumsi PLN. Terimakasih atas sharring ilmunya. Salam

    • Haris says:

      waduh itu banyak pak unit sel dan akinya. saran saya dicoba dari beban kecil dulu, jika dilihat cukup prospek ya tinggal dinaikkan kapasitasnya. untuk keekonomian saya tidk bisa menjawab karena saya memasang PLTS sekedar hobi dan mencoba untuk memakai energi ‘hijau’.

  17. intan says:

    assalamualaikum,, pak haris, saya intan mahasiswa tingkat akhir di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Saya ingin meneliti tentang SHS yang ada di youtube di blog nya mas haris. mengenai efisiensi nya. kebetulan saya tertarik karna waktu itu di rumah paman saya di lahr, baden w├╝rttemberg menggunakan photofoltaic untuk kelistrikanya, nah saya ingin meneliti ini untuk tugas akhir saya, apabila berkenan untuk memberikan materi saya bersedia pak.

    • Haris says:

      saya membuat PLTS sekedar hobi dan tidak memakai hitung2an ekonomi, walaupun begitu instalasinya dibuat secara aman dan standar. untuk materi mungkin sebaiknya dimintakan kepada ahlinya yang memang profesi atau ilmunya di bidang kelistrikan.

  18. alpha says:

    wuedan !!! keren om !! tinggalnya dimana nih?

    mau tanya, itu yg di gambar skema, inverternya ambil dari aki, tapi yg di deskripsi, inverter ambil dari load MPPT, mana yg benar om?

    fyi, saya hampir desperate dg shs pake konvensional lead acid.

  19. nanCATSU says:

    Mas… klo buat nyalain aquarium doang … bahan n alat yang di pake apa aja…. inverter perlu ga….

    • Haris says:

      inverter tidak perlu, akuarium kan bisa pakai lampu yang 12V, juga kalau untuk pompa gelembung itu kan pakai arus DC voltase rendah mungkin 12V

  20. bayu says:

    artikel sangat membantu, kebetulan di rumah lagi buat projek seperti di atas.. yang angka digital itu timer apa bukan?? trus fungsi relays untuk apa??

  21. bayu says:

    untuk charger konvesional, output nya masuk langsung ke battrey apa ke controller / BCR dulu ? mohon penjelasannya. terima kasih

  22. Hermawan says:

    Sangat memberikan inspirasi, ada yang ingin saya tanyakan untuk solar panel kenapa tidak menggunakan 5x 100wp yah? Saya lagi nyicil sedikit sedikit komponen shs nya karena keterbatasan bujet heheheheheh. Thank

    • Haris says:

      ya tadinya pakai yng kecil 50 Wp saja, terus nambah 50 wp lagi, karena cukup menarik akhirnya saya tambah hingga 500 wp.

  23. Lies Arief Yuniar says:

    Ini Betul2 persis dalam angan2 saya yang ingin memiliki sistem PLTS sendiri yang hybrid (gabungan PLN – PLTS), yang jadi ganjalan saya saat ini adalah umur aki itu sendiri, klo umur aki sebanding dengan umur panel sih tidak masalah, tapi klo umur aki bertahan 2-3 tahun dan kita harus beli aki baru lagi, rasanya bukan penghematan yang kita dapat, kira2 ada gak solusi untuk masalah daya tahan aki ini?

    Tapi sungguh saya pribadi kagum takjub dengan project nya Pak Haris ini, betul menginspirasi saya untuk segera mewujudkan mimpi saya memiliki PLTS sendiri, hanya saja lagi lagi masalah biaya yang jadi kendala.

    Saya ingin sekali mensosialisasikan energi alternatif ini ke masyarakat, bahwasanya PLTS ini tidak eksklusif bagi daerah yang tak terjangkau listrik PLN, kita pun bisa mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan ini untuk tujuan penghematan, dan tentunya penguasaan akan teknologi ini nanti ke depannya.

  24. agus says:

    Pak Haris,
    1. Apakah ada forum di internet untuk diskusi masalah pembuatan SHS ini?….
    2. Saya masih penasaran dengan Grid Tie System, apakah sudah ada yang mengaplikasikan di Indonesia?…
    terima kasih

    • Haris says:

      Saya kurang tahu ya forum-forum seperti itu. Kalau tentang grid tie, di Indonesia belum ada dan saya kira tidak bisa diaplikasikan dalam waktu dekat, masih jauh.

  25. farid noerhidayanto says:

    saya sudah memasang SHS untuk di rumah saya. entah kenapa aki selalu tekor, padahal belum 1 tahun umurnya. jika SHS tersebut jarang di gunakan dapat merusak aki nya, karena selalu diisi tanpa pemakaian. saya menggunakan aki basah 200 AH 1 buah.
    apakah instalasi controller MPPT seperti di contohkan sama dengan instalasi controller PWM, saya menggunakan Winningstar Solar Charge Controlle 20 A.
    mohon solusinya mas. terimakasih

    • Haris says:

      jarang dipakai untuk beban tapi aki tekor dalam setahun? kalau dipakai beban normal memang aki basah umurnya sekitar 1-2 tahun saja. Namun jika jarang dipakai untuk beban mustinya bisa lebih panjang umurnya. Mungkin perlu dilihat apakah terjadi overcharging karena ‘kebocoran’ di controller, karena aki jarang diberi beban, namun setiap siang hari selalu dialiri arus charge.

  26. Farid says:

    Assalamualaikum mas haris. Saya ingin bertanya perihal SHS. Di rumah saya sudah di pasang SHS. Tapi mengapa dayanya selalu cepat habis padahal beban hanya 5 lampu led 7 watt, pompa aquarium dan tv lcd 32. Inverter 1000 watt, aki 12v 200 ah, controller PWM 20 A, panel 4×50 wp. Waktu pertama pasang, bisa tahan dari sore sampai pagi, sekarang gak sampai 1 jam,padahal di indicator controller menandakan baterei full. Bagaimana solusinya mas? Trims infonya

    • Haris says:

      Berarti dayanya dipakai sekitar 100 watt ya? sedangkan panelnya hanya 200 wp (maks 2x beban terpakai). Bisa jadi kalau cahaya matahari kurang terik bosa cepat ngedrop. Tapi jika matahari terik terus dan tetap ngedrop, perlu dimodifikasi ganti controller MPPT dengan kapasitas arus yang lebih besar.

  27. Farid says:

    Nambahin mas haris perihal skema SHS. Kalau input inverter saya pasang ke kutub plus minus aki, bukan output dari load controller, inverter saya gak nyala mas kalau dari load controller. Apanya yg keliru yaa mas? Trims infonya

    • Haris says:

      Kalau kapasitas arus controllernya kecil, biasanya tidak kuat ‘ngangkat’ inverter jika dipasang ke load controller. Coba saja ganti controller dengan arus yang lebih besar.

  28. amos sumbung says:

    halo bang, saya memasang SHS 200 WP 12 volt di rumah saya. selama 6 bulan pemasangan masih baik-baik saja. tapi bebera[a hari terakhir, hanya bisa menyalahkan 3 buah bahlon total 12 watt utuk 2-3 jam. apakah ada petunjuk tentang problem ini? btw kemaren saya juga mendengar buntyi bip dari kotroler yang saya gunakan pada sore hari menjelang matahari terbenam.
    thanks

    • Haris says:

      Sepertinya ada masalah pemuatan listrik di aki, bisa jadi masalahnya di solar charge controller atau di aki. Mungkin perlu dicoba akinya dicharge dengan charger listrik biasa. Jika sudah penuh dicoba untuk menyalakan lampu tersebut apakah bisa bertahan lama atau tidak. Jika bisa bertahan lama berarti masalahnya kemungkinan ada di controller. Saya pernah dua kali salah beli controller, tidak bisa nge-charge dengan optimal sehingga muatan listrik di aki yang disimpan semakin lama semakin berkurang dengan cepat. Saya sarankan mencari controller tipe MPPT dengan kapasitas arus yang besar.

  29. salam pak haris, saya ini awam tentang kelistrikan maupun ukuran listrik. Saya tertarik dg shs ini, yg saya tanyakan apa bisa dibuat usaha seperti usaha laundry utl menyalakan seterika 350 what atau mesin cuci 350 what ? terimakasih.

    • Haris says:

      Pada dasarnya bisa saja SHS untuk setrika maupun mesin cuci, namun menurut saya kurang pas karena kedua peralatan elektronik tersebut membutuhkan daya listrik yang besar. SHS pada saat ini umumnya digunakan untuk peralatan dengan daya rendah seperti lampu LED, TV LED, dll.

  30. jhony says:

    Bagus artikelnya, sangat mencerahkan dan tidak pelit untuk berbagi ilmu. Biasanya ada yang punya kemampuan seperti ini kalo di internet tidak menggunakan penjelasan seperti ini tetapi menggunakan tabel harga sebagai jasa konsultasi dan pemasangan. BRRAAVVOO pak haris…terimakasih untuk ilmunya…

  31. cumi says:

    habisnya berapa duit? hitung2nya sama pakai pln leih tuntung mana?

  32. asnawi says:

    salam pak haris.mohon pencerahnya. di sekolah kami ada panel surya yg kapasitasnya 50 Watt. dengan aki 12 v. 60 ah.dan inverter 1200 watt.kami cuman pake 1 printer dengan lampu yang langsung ke aki sebnyak 3 biji dgn rata2, 5 watt/bj. ketika kami mau cas laptop dgn daya 65 watt.aki langsng low dgn menandakn nyala indikator merah di inverter.pdhl altnya belum sampai 5 bulan. solusinya.apakah kami harus beli tambah panel surya lg atau kami harus mengganti aki yg di bwh 60 ah. mengingat sekolah kami di pedalaman NTT dah semua harga electronik mahal. kami sangat mengharapakan bantuan pak haris untuk memberikan pencerahan dan budi baiknya demi melancarkan aktifitas di sekolah kami. terima kasih.asnawi SMP N SATU ATAP WAE BELANG MANGGARI (NTT).

    • Haris says:

      3 buah lampu masing-masing 5 watt berarti total 15 watt, lalu ditambah cas laptop 65 watt jadinya total 80 watt. Dengan voltase aki 12 volt berarti diperlukan arus sekitar 7 Ampere. Dilihat dari kapasitas aki 60 Ah mustinya bisa bertahan setidaknya 7 jam jika kondisi aki full muatan listriknya dan kondisinya baik. Jika inverter langsung ada indikator merah, berarti masalah utamanya kemungkinan ada di kapasitas solar panel sehingga aki tidak bisa terisi penuh. 50 Wp itu arus charge maksimumnya sekitar 3 Ampere pada kondisi terik matahari, sedangkan Bapak perlunya 7 Ampere. Sebaiknya ditambah solar panelnya setidaknya menjadi 150 Wp.

  33. sarji says:

    Pak tolong aki yg baru td harganya brapa?

  34. ardy says:

    Trimaksih p.Haris atas pencerahannya aq juga nyoba aplikasikan di rumah dengan 100WP dan accu 1x 75 Ah + 1x 65 Ah.

  35. rulli rissapertama says:

    pak Haris,..
    kami sekeluarga punya rencana hendak merenovasi rumah di kota Bandung pada akhir tahun 2015 (insyaAllah).
    apakah pak Haris bisa menjadi konsultan kami untuk sistem kelistrikan hybrid nya ?
    terima kasih

    • Haris says:

      Saya sarankan untuk mencari konsultan yang memang bergerak di solar energy secara profesional. Kalau saya hanya hobi atau amatir.

  36. Dewaindraputra says:

    terimakasi Pak Haris, saya mau mencoba di rumah saya. ada skema pemasangannya secara detail?

  37. setyorini says:

    jempol dua untuk pak haris ,o y pak untuk aneka surya ada cabang di jogja atau purworejo tidak?kalo ada minta alamatnya,trmksh

  38. rahman says:

    Mas, harga2 untk setiap unit part’y brapa ya?

  39. Yuda Mahendra says:

    Mas Agus, salam kenal..

    Mau nanya mengenai :
    1. klo bisa saya diberi skema perombakan kelistrikan rumah mas Agus yang telah dibuat ulang.
    2. Untuk panel listrik (thunder) pemasangannya letaknya sebelum solar charge controller ya?
    3. sedikit kurang jelas mengenai otomasi charge jika PV kurang maksimal mengisi batrai, yang mengatur on-off pengisiannya terletak dimana ya?

    Salam,
    Yuda Mahendra

  40. ryan says:

    Om haris sblm nya terilmakasih u/ilmu yg d bagikan,itu sgt bermanfaat om saya mau konsultasi om, dan saya mau brtnya dlu tlg d jwb ya..
    1.seumpama tidak memakai panel surya dulu langsung dari aki ke inverter apa tetap harus pakai solar charge
    2.itu punya om yg memakai charger aki biasa lsg ke aki apa input dari solar charge

    Kalau untuk beban lampu 30 watt 1tv&1 kipas angin itu butuh solar charge&inverter brp dan kapasitas aki yg brp. Tlg saya d kasih link toko online nya u/pembelian inverter
    Trimakasih banyak om ilmu anda sgt membantu dan sangat berguna tlg d jwb atau d kirim ke email q

  41. sugiarto says:

    Pak sy sangat tertarik dgn video bpk di Youtube, sy mau tanya utk membuat tenaga surya yg spt bpk punya perlu dana brp?. semuanya utk berapa watt?. utk pemasangan di jkt perusahaan mana yg bgs servis jasa dan harga bersaing?. mohon informasinya. thanks.

  42. josua says:

    Mas aris, mhon info t4 order inverter & charger controller di dlm negri atw pun di luar. Atw jika mas aris bsa bantu, mhin di bantu utk pengadaan. Trmkasih..

  43. ica says:

    Mas, mohon penjelasan. Saya mau cari solar yg kira 2 cukup bisa dipake ngecas penuh aki motor al volt dalam sehari. Kira2 berapa wp yg dibutuhkan? Dan peralatannya apa aj?…

  44. ica says:

    Maksudnya. Peralatan kelengkapan solar selnya. Buat ngecas aki

  45. akbar. m says:

    Terima kasih atas penjelasan yg berguna, saya ingin bertanya mas haris saya punya modul tapi ngak tau wp nya berapa karena modul second,jumlah cellnya 36 tiap modul, bisa ngak modul ini saya rangkai 2 ( saya punya 2 modul) trus saya punya satu buah aki 120 ampere/ 12 volt, kira2 control charge yg bagaimana bisa saya gunakan, karena rencana kedepan pengen nambah satu aki yg juga 120 ampere, apa mppt 20 ampere/ 12 volt ud cukup buat sekarang?( mohon bantuannya mas haris)

    • Haris says:

      mengenai berapa Wp bisa dikira-kira dari luasnya. solar panel 100 Wp yang saya punya mempunyai ukuran 1,2 x 0,55 m. Jadi silahkan diukur dan dihitung sendiri. dua modul tersebut bisa digabung asalkan mempunyai spesifikasi yang sama, bisa di-seri atau di-paralel. saya kira MPPT 20A 12/24V sudah cukup, namun saya rekomendasikan yang 30A sekalian.

  46. yudi says:

    Hallo pak Harris,
    Ini sungguh merupakan artikel yg sangat menarik.
    dr skema yg trakhir, mengapa bapak kembali menggunakan inverter modified sine wave?

    Trimksh

    • Haris says:

      Iya, inverter pure sine wave rusak dan karena saya beli langsung dari luar negeri jadinya susah untuk reparasinya. Akhirnya saya pakai modified sine wave Intelligent / Inverter Plus yang ada dukungan reparasi penuh di Indonesia jika ada kerusakan.

  47. ardy says:

    Mhon ijzin share

  48. yuni says:

    Hallo pak haris, kebetulan saya tinggal di daerah terpencil yg tidak ada listriknya. Rencana saya ingin memasang solar cell tetapi tidak tahu cara perhitungan brp panel dan aki yg harus digunakan untuk rumah saya. Ya kira-kira sekitar 3.300 watt hour. Brp budget yg harus sy siapkan. Sedangkan sy tanya2 dengan teman yg jual solar cell itu kalo 100 WP tp sudah 1 set tinggal pasang itu kisaran 8,9 jt. Sedangkan kalo menggunakan genset lebih mahal, apalagi beli bensin harga perliternya sudah 9rb – 10rb. Bisa tolong kirim ke email saya pak mau tanya2. Mohon bantuannya terima kasih ­čÖé

    • Haris says:

      3300 Watt hours dibagi 5 jam efektif penyinaran matahari didapat 660 Watt-peak. Jika memperhitungkan musim hujan jadinya perlu panel sekitar 1000 Wp. Untuk aki bisa memakai sekitar 600 Ah 12V.

  49. hafizh says:

    pak haris, saya ingin bertanya tentang tahap pemasangan panel surya pada atap bangunan? saya kurang jelas dari penjelasan yang di atas…saya butuh penjelasan untuk Tugas Akhir saya pak…terima kasih sebelumnya…

    • Haris says:

      Di atap sih ya tinggal dipasang saja pakai baut. Yg perlu diperhatikan adalah arah dan sudut kemiringan panel optimal yang bisa berbeda2 tergantung garis lintang (latitude) lokasinya.

  50. nikolai says:

    sangat informatif dan sangat membantu sekali dalam usaha pencarian energi terbarukan saya. praktek dulu dirumah

  51. manaf says:

    Nanya Pak Haris. Saya order mppt controller serupa, tapi setelah lihat2 review di yutub jadi ragu apa itu benar2 tipe mppt di mana ada kompensasi kelebihan voltase dikonversi jadi tambahan arus. Gimana menurut pengalaman Pak Haris dengan kontroler ini? Terim kasih.

    • Haris says:

      Ya benar ada banyak review yang mengatakan controller ini adalah mppt palsu. Saya kurang tahu pasti ini mppt atau mppt palsu. Yang jelas setelah ganti controller ini arus charging memang lebih tinggi dibanding controller sebelumnya. Apakah lebih tingginya arus charge karena faktor ‘mppt’ atau tidak saya belum menyelidikinya. Saya sudah memakai controller ini 2 tahun dan sampai sekarang masih normal. Saya sarankan membeli controller yang memang benar-benar terbukti mppt saja, namun memang lebih mahal.

  52. hafizh says:

    sy mau tanya tentang jarak antar panel dan jarak antara atap dan modul pak berapa cm ya? trmkasih..

  53. Puji rahmat says:

    Sya sdh pake controller mppt T40 keluaran terbaru memang terbukti beda dgn PWM

  54. Puji rahmat says:

    Bro haris,Sya beli d tokopedia.searching aja d mbah google controller MPPT T40

  55. Puji rahmat says:

    Bro sya mau tanya lgi belajar bikin solar panel.sya masih blm paham dengan inverter yg 12v dan 24v apa ke 2nya mempunyai perbedaan.

    • Haris says:

      Perbedaannya pada aki yg dipakai 12 atau 24 V. Voltase yg keluar via Load juga akan mengikuti voltase aki. Voltase input inverter juga harus sesuai.

  56. andi says:

    mas saya drmh memakai PLTS. satu aki 70 watt dengan panel 100wp. disini saya memakai inverter pure sine wave.klo saya pasang utk tv dan parabola kipas inverternya berputar kencang dan brbunyi mas.tetapi jika utk kipas angin saja tidak brputar kncang dan tdk brbunyi mas.,., knpa? tlong pnjelasannya ya…

  57. Nengah Darma Antara says:

    Pak Haris,
    Akan lebih sipp lagi kalau bisa sinkron dengan sistem PLN. Listrik dari SHS akan bisa maksimal digunakan, dan bila ada kelebihan pemakaian bisa diexport ke PLN. Saya pernah dengar PLN dapat menyediakan kWH export-import dan listrik yang kita export dianggap excess power, harganya sudah diataur dengan Peraturan Menteri ESDM sekitar Rp 1.000 per kWh.
    Bravo, mari kita lestarikan bumi ini dengan menggalakkan energi terbarukan.

  58. Budiarno says:

    Selamat siang Om Haris,

    Mohon sarannya, bagusan mana Aki diparalel atau diseri ya Om? Saya berencana beli aki satu lagi dengan merek dan type yang sama 12 volt 7AH (penggunaan untuk skala kecil saja di rumah, hanya lampu DC 12 volt).

    Makasih Om.

  59. tanwer says:

    selamat malam pak haris.

    saya ingin nanya , misal saya mempunyai Solar panel 100wp , terus
    solar Controller 20A , dan aki hanya 12Ah ( Maximum charging currentnya 3.6 Ah yg tertulis di Aki).

    nah yang ingin saya tanyakan , sebenarnya berapa Ah (Amphere ) pengisian dari Controller ke Aki ( Battery ) Perjamnya.

    apakah berbahaya dengan aki yang hanya 12ah dan maximum charging Current 3.6 Ah ( yang tertulis di Aki kering )

    karena saya hanya ingin coba dulu dengan Aki yang kecil
    , kalau nanti berhasil baru di coba dengan aki yang Ah nya besar
    Terima kasih

    • Haris says:

      100 Wp itu arus chargingnya sekitar 5,8A kalau pakai PWM. Itu lebih besar dari spec aki tsb. Bisa saja sih, tapi aki akan cepat rusak. Idealnya untuk aki 25-60Ah.

  60. tanwer says:

    ok thank’s pak haris , yang sudah berbagi ilmu

  61. Puji rahmat says:

    Ada tak yg jual solar panel bersubsidi dri pemerintah.supaya kita sadar akan sumber daya alam terbaru kan.dan masyarakat dpn memanfaatkannya.

  62. tanwer says:

    selamat pagi pak haris , saya mau konsultasi nih , saya mau pasang fuse/sekering di arus DC kabel positif untuk lampu , berbentuk tabung yang biasa di motor , tetapi saya lihat ditabung tertulis
    F5A / 250 volt , bagaimana ya membaca sekring ini , kan kalau di arus DC voltnya 12 , apakah tulisan 250 volt di sekring ini juga berfungsi diarus DC ,

    terima kasih

  63. dwi heri says:

    Salam,
    Dari diagram blok terakhir terdapat “current delayer”. Mohon penjelasannya.
    Terima kasih…

    • Haris says:

      Current delayer digunakan untuk menunda output dari inverter sekitar 1-2 menit supaya ‘siap’ terlebih dahulu sebelum disambungkan ke beban.

  64. […] rumahan coba mulai dikerjakan sekitar 2-3 tahun lalu di rumah lama. Kebetulan saat itu, dari blog Agus Haris sudah cukup lengkap buat jadi panduan. Yang mau belajar juga cara bikinnya bisa langsung kesana, […]

  65. rinaldi says:

    Terima kasih om atas ilmu nya… semoga om sukses selalu

  66. andy says:

    terima kasih Pak atas dokumentasi, ilmu dan pengalaman yang dibagikan. Bermanfaat bagi saya. Best regards. Andy

  67. Ardianto says:

    Pak Haris,

    Buat keamanan kelistrikannya gimana? Fuse atau sekring untuk memutus arus ketika short circuit misalnya dipasang di mana? Setelah inverter? Di antara solar charge controller dan inverter? Di antara solar cell dan solar charge controller?

    • Haris says:

      Saya gunakan fuse DC 30A untuk kabel dari solar panel ke controller dan dari controller ke inverter, fuse tersebut kerjanya persis seperti MCB, bisa diputus/sambung secara manual, dan bisa otomatis terputus jika terjadi short-circuit atau kelebihan arus. Kemudian saya juga gunakan fuse AC (MCB) dari inverter ke beban AC 220V.

  68. ica says:

    Gimana perkembangan shsnya sekarang mas. Kira2 masalah yg muncul apa saja dan penyelesaiannya gimana? Buat gambaran saya. Saya pake shs murni. Sini ndak ada pln.
    Shs saya :
    Panel Surya 100 wp
    Controller ep solar 20 a
    Aki basah 100 a.
    Pemakaian laptop., 2 buah printer, lampu led 5, 6, 7 12 dan 24 watt. Total 15 lampu. Kadang dipake solder
    Pemakaian sdh 9 bulan, aki sdh mulai terasa menurun performa.
    Rencananya mau nyari desulfator

  69. Hermawan says:

    Tambah lagi p, sy rencana mo coba pasang dulu pake 1 batray 110 Ah, untuk solar panelnya harus pake yg berapa wp agar kuat untuk charge batraynya.

  70. bryan daniel says:

    Pak saya lihat solar cell ini di banyak web tapi tidak ada yang memakai ini untuk AC, apakah tidak kuat untuk mendukung AC semalam penuh??

    • Haris says:

      Kalau pakai kabel pendek dan loadnya DC, yang mending tidak pakai inverter AC. Tapi kalau kabelnya panjang dan banyak jaringannya (bercabang-cabang) sebaiknya pakai AC karena losses energi listrik akan lebih sedikit.

  71. wira says:

    terima kasih atas info dan pembahasannya yg detail… jadi tambah ilmu nih… semoga selalu sehat dan terus berkreasi…. salam Wira

  72. bayu says:

    selamat malam pak, mau tanya di skema ada curent delayer, maksudnya apa? apakah timer?

  73. ibnu fajar says:

    trimakasih mas artikelnya sangat membantu dalam pembuatan tugas akhir saya, mohon ijin juga untuk memakai beberapa materi dari artikel ini mas
    trimakasih semoga mas semoga ilmunya bermanfaat dan semoga mas dan keluarga diberikan rizki yang berlimpah aamiin

  74. Terima kasih atas infonya pak. Ini cukup baik dan bermanfaat untuk jasa tenaga surya lainnya.

  75. Andre Eko Purnomo says:

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Studi tenaga surya,Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Studi Tenaga Surya yang bisa anda kunjungi di http://ps-surya.gunadarma.ac.id/

  76. recomended artikel memasang solar home sistem atau pembangkit tenaga surya mini.

  77. berwirausaha says:

    maa haris ini tulisannya sangat detail dan jelas, kelihatan bener kalao orang berilmu mah…. bwt saya sangat tertarik untuk mencoba nya di tambak sekedar untuk menghidupkan lampu gubuk, dan berhasil..
    bahkan sanggup bertahan untuk menghidupkan kipas

  78. bambang T says:

    Top..Se..detail penjelasannya pak Haris…Insya Alloh atikel ini saya jadikan referensi untuk SHS d rumah saya

  79. marsudi says:

    sangat bermanfaat sekali, semoga mas sll sehat dan dilindungi oleh allah swt, saya akan mulai mas…

  80. lalu bahrul ain says:

    thank… berat … saya lagi coba

  81. Rofik says:

    ass…mas untuk menggeber aki basah apakah aman paralell sampai 1000Ah atau lebih….mohon pencerahan untuk mengcover beban besar….trims

  82. A Kuswoyo says:

    Pak mau nanya nih, klo input dari panel surya yg ada di kontroler, bisa ga di beri arus dari adaptor, saya ingin pergunakan kontroler untuk mengecas aki, mohon masukannya. Terima kasih

  83. Adendi says:

    Om knp itu rangkaian panel surya dan akinya dibuat 24 vol? Apa kelebihannya dibanding rangkaian 12volt? Bukankah rangkaian 12 volt lbh murah dan lbh banyak dipasaran sparepartnya, apa pertimbangan om Haris memilih 24volt? Mohon pencerahannya..

    • Haris says:

      Dengan voltase yang lebih tinggi maka arus yang dipakai lebih kecil. Dengan arus yang lebih kecil, jumlah losses listrik akan lebih kecil juga.
      Prinsipnya seperti SUTET, mengapa SUTET memakai tegangan ribuan volt…. agar arus yang lewat kabel lebih kecil namun daya yang ditransmisi tetap tinggi (dengan dikompensasi dengan tingginya voltase), sehingga losses energi yang hilang di kabel/kawat lebih kecil.

Leave a Reply