Di sekolah guru-guru kita mengajarkan bahwa daratan di Indonesia dulu lebih luas dari kondisi saat ini karena kepulauan Nusantara dulu saling terhubung, tidak ada Selat Malaka dan Laut Jawa. Itu memang betul sekali karena dulu level permukaan air laut di bumi ini pernah turun berkali-kali relatif dari posisi saat ini. Timah laut yang saat ini ditambang oleh PT. Timah Tbk di sekitar Pulau Bangka merupakan timah aluvial yang terendapkan oleh sungai-sungai purba yang berkelok-kelok pada saat air laut belum menenggelamkannya.

Sudah pernah lihat film Ice Age? Kalau belum, tidak ada salahnya untuk melihat film tersebut yang cover-nya seperti gambar di atas. Setidaknya ada secuil sejarah zaman es yang bisa diketahui dari film kartun ini. Ice age secara umum didefinisikan sebagai periode dimana bumi mengalami pendinginan (global cooling) dalam jangka panjang sehingga muncul lapisan-lapisan es yang luas di kutub utara dan selatan bumi. Sejak sekitar 2 juta tahun yang lalu bumi mengalami pendinginan yang menyebabkan perubahan level permukaan air laut global (eustasy) yang relatif turun dibanding periode sebelumnya. Periode pendinginan inilah yang disebut kala Plistosen atau ice age. Di dalam ice age ini sebenarnya masih terdapat siklus dingin (glacial) dan panas (interglacial) yang terjadi secara berulang-ulang dalam orde yang lebih detil yaitu puluhan ribu tahun. Secara lebih spesifik, “the ice age” banyak digunakan untuk merujuk pada siklus dingin terakhir yang terjadi sekitar 12.000 tahun yang lalu. Dalam waktu geologi, periode setelah 12.000 tahun yang lalu ini dikenal dengan kala Holosen.

Menurut definisi umum kita saat ini masih hidup pada ice age karena lapisan es masih terhampar luas di kedua kutub bumi. Hanya saja secara alamiah kita saat ini sedang menuju ke siklus panas (interglacial), meninggalkan siklus dingin (glacial) yang puncaknya terjadi sekitar 20.000 tahun silam. Dengan kata lain kita saat ini sedang menuju ke periode dimana bumi sedang mengalami pemanasan global (global warming) yang konsekuensinya permukaan air laut juga sedang naik dalam orde puluhan ribu tahun secara alamiah. Pemanasan global dan naiknya level permukaan air laut ini kemudian bisa dipercepat oleh adanya peradaban manusia. Namun demikian naiknya permukaan air laut tidak terasa oleh kita karena skala waktu manusia modern relatif sangat singkat dibanding skala waktu geologi. Dengan demikian kita saat ini tidak perlu terlalu merisaukan akan naiknya permukaan air laut.

Pada Gambar 1 ditunjukkan kurva eustasy berdasarkan catatan geologi yang menunjukkan adanya siklus naik dan turunnya level permukaan air laut (dalam orde yang lebih lebar, jutaan tahun) sejak 30 juta tahun yang lalu (Haq et al., 1987). Terdapat banyak interpretasi yang berbeda oleh para ahli tentang kurva eustasy ini, tetapi secara umum tetap menunjukkan pola yang sama. Dari kurva ini terlihat bahwa sekitar 2 juta tahun terakhir ini level permukaan air laut pernah turun berkali-kali kurang lebih 100 meter dari posisi sekarang. Pada saat itulah kemungkinan besar pulau-pulau di Indonesia bagian barat saling terhubung menjadi daratan yang luas.

Gambar 1. Kurva eustasy yang menunjukkan perubahan level permukaan air laut sejak 30 juta tahun yang lalu (Haq et al., 1987).

Jika pada kala Plistosen sampai sekarang suhu bumi relatif dingin dan level permukaan air laut relatif lebih rendah, pada kala sebelumnya yaitu kala Miosen bumi cenderung lebih panas. Panasnya suhu bumi pada waktu itu tidak hanya membuat tingginya curah hujan dan banjir bandang dimana-mana seperti yang sedang kita alami di Indonesia dan belahan dunia lain saat ini. Tetapi pada saat itu level permukaan air laut juga ikut naik dan telah menenggelamkan kepulauan Nusantara. Tenggelamnya kepulauan Nusantara ini terekam jelas dalam sejarah geologi. Bukti-bukti geologi mengindikasikan adanya transgresi maksimum (transgresi = relatif naiknya permukaan air laut) yang terjadi pada 16 juta tahun yang lalu (lihat Gambar 1). Sebagai perbandingan dengan kondisi saat ini, pada Gambar 2 ditunjukkan kondisi Pulau Sumatera saat ini dan 16 juta tahun yang lalu. Pada saat transgresi maksimum, Pulau Sumatera tenggelam dan hanya menyisakan beberapa pulau kecil saja.

Gambar 2. Perbandingan batas Pulau Sumatera saat ini dan 16 juta tahun yang lalu (dimodifikasi dari de Coster, 1974).

Transgresi maksimum ini bertepatan dengan pemanasan global yang menaikkan suhu bumi pada kala Miosen rata-rata 10oC relatif terhadap suhu saat ini (Jablonski, 2005). Sehingga kalau suhu rata-rata tahunan di Indonesia saat ini 28oC, berarti suhu rata-rata saat pemanasan global 16 juta tahun yang lalu adalah sekitar 38oC.

Tenggelamnya kepulauan Nusantara ini tentu saja menghapus hampir semua habitat daratan pada kala itu. Tetapi di sisi lain sebenarnya tenggelamnya kepulauan Nusantara ini membawa ‘berkah’ bagi kita saat ini. Pada kala sebelum transgresi itu terjadi, banyak jasad-jasad renik (plankton) yang terendapkan bersamaan dengan proses sedimentasi di dasar cekungan atau danau besar yang seiring dengan berjalannya waktu berubah menjadi minyak dan gas bumi oleh proses sedimentasi terus menerus yang diikuti oleh proses diagenesis.

null

Gambar 3. Skema sistem cebakan minyak dan gas bumi.

Minyak dan gas bumi ini kemudian bermigrasi ke atas dan terjebak di batuan-batuan berbutir kasar seperti batupasir atau batugamping yang telah terlipat-lipat oleh proses tektonik dan tidak pernah hilang atau merembes kemana-mana karena di atasnya terdapat lapisan penudung (batuserpih dan batulempung) yang tersebar luas (lihat Gambar 3). Lapisan penudung ini adalah batuan berbutir halus yang terendapkan pada masa transgresi maksimum tersebut (lingkungan pengendapan yang dalam selalu menghasilkan sedimen yang halus).

Dengan demikian walaupun pemanasan global pada kala Miosen menghapuskan sebagian besar habitat daratan pada waktu itu, di sisi lain merupakan salah satu proses alamiah untuk terbentuknya sistem cebakan minyak dan gas bumi di Indonesia. Karena itulah negara kita Indonesia kaya raya kandungan minyak dan gas bumi di berbagai cekungan geologi terutama di Sumatera.

Referensi
– de Coster (1974) The geology of the Central and South Sumatra Basins. Proceedings IPA, 3rd Annual Convention, Jakarta, 77-110.
– Haq et al. (1987) Chronology of fluctuating sea levels since the Triassic. Science 235, 1156-1167.
– Jablonski (2005) Primate homeland: forests and the evolution of primates during the Tertiary and Quaternary in Asia. Anthropological Science 113, 117-122.

3 Comments on Sejarah Tenggelamnya Kepulauan Nusantara

  1. Angy Sonia says:

    mas, bikinin notes tentang teori benua yang ada hubungannya dengan regresi pesisir dong.. trims 🙂

  2. hmmm…. teori benua apa ya? saya sih cuma bisa crita geologi doang…..:D

  3. Raditya says:

    Informasi dari berbagai sumber katanya air laut 97% dan air tawar 3%, sedangkan 70% air tawar berupa es. Berarti es hanya 2%. Es yang akan menaikkan muka laut tentu yang ada di atas muka laut yaitu yang 2% tadi atau lebih kecil. Saya masih bingung menghubungkan, kalau hanya ditambah 2% (es cair semua)apa laut bisa naik sedemikian tinggi hingga Sumatera hanya tinggal puncak-puncak Bukit Barisan. Minta info barang kali punya hitung-hitungannya?

Leave a Reply